Jumat, 25 November 2011

Your Free Download Links

Sangat banyak link download yang beredar di internet, namun anda harus selektif karna tidak semuanya berisi file yang kita harapkan. Salah-salah zonk yang kita unduh, lebih parah lagi banyak yang berisi content jorox. Nah, berikut adalah
link download gratis yang mungkin sedang anda butuhkan. Cara download : klik link bergaris dibawah tunggu sebentar sampai muncul halaman adf.ly klik SKIP AD dipojok kanan atas kemudian klik download dan selesai... Silakan download gratis : Daftar Isi Skripsi Pendahuluan Skripsi Acknowledg of Script RPP Bahasa Inggris Form Pendaftaran Siswa Buku Panduan Sekolah Program Sekolah Unggulan Jurnal Guru Bahasa Inggris Lembar Tugas Siswa Lembar Observasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Makalah Pendidikan Cheat Engine PC
Selengkapnya ...

Rabu, 19 Oktober 2011

8 Alasan Tak Boleh Memukul Anak

8 Alasan Anda Tak Boleh Memukul Anak

     Di 29 negara, kekerasan terhadap anak yang dilakukan orang dewasa adalah sebuah perbuatan melanggar hukum. Di 113 negara, sekolah juga dilarang memberikan hukuman dengan memukul.
Meskipun saat ini sudah jarang terjadi,
tetap masih ada saja orangtua yang memukul jika anaknya membuat kesal. Padahal tindakan itu sebaiknya dihindari karena bisa berefek buruk pada anak.
Dikutip dari Natural Growth, Dr. Peter Newell, koordinator organisasi End of Punidshment of Children mengatakan, semua orang berhak mendapat perlindungan atas kebebasan fisik mereka, anak-anak termasuk orang yang berhak itu. Selama beberapa tahun terakhir ini pun, cukup banyak psikolog dan sosiolog yang merekomendasikan agar orangtua tidak memukul saat anak melakukan hal yang tidak baik atau mengesalkan.
Berikut ini 8 alasan kenapa Anda sebaiknya tidak memukul anak:
  1. Memukul anak malah mengajarkan mereka untuk menjadi orang yang suka memukul. Cukup banyak penelitian yang menunjukkan bahwa anak yang sering dipukul memiliki perilaku agresif dan menyimpang saat mereka remaja dan dewasa. Anak-anak secara alami belajar bagaimana harus bersikap melalui pengamatan dan meniru orangtua mereka. Makanya jika Anda suka memukul, saat dewasa nanti, mereka pun akan menganggap apa yang Anda lakukan itu memang boleh dilakoni. 
  2. Anak-anak berperilaku tidak baik biasanya karena orangtuanya atau orang yang mengasuhnya melupakan kebutuhannya. Kebutuhan itu di antaranya, tidur yang cukup, makanan bernutrisi, udara segar dan kebebasan mengeksperikan diri untuk bereksplorasi. Orangtua terkadang melupakan kebutuhan anak tersebut karena terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri. Ditambah lagi stres yang melanda membuat orangtua jadi cepat emosi saat anak mulai menunjukkan sikap tidak baiknya. Sangat tidak adil jika akhirnya si anak dipukul hanya karena sikap tidak baiknya yang awalnya sebenarnya adalah kesalahan orangtua. 
  3. Hukuman malah membuat anak tidak belajar bagaimana seharusnya menyelesaikan konflik dengan cara yang efektif dan lebih manusiawi. Anak yang dihukum jadi memendam perasaan marah dan dendam. Anak yang dipukul orangtuanya pun jadi tidak bisa belajar bagaimana menghadapi situasi yang serupa di masa depan. 
  4. Hukuman untuk anak dengan kekerasan bisa mengganggu ikatan antara orangtua dan anak. Ikatan yang kuat seharusnya didasari atas cinta dan saling menghargai. Jika Anda memukul anak, dan si anak kemudian menuruti perkataan Anda, apa yang dilakukannya itu hanya karena dia takut. Sikap itu pun tidak akan bertahan lama karena pada akhirnya anak akan memberontak lagi. 
  5. Anak yang mudah marah dan frustasi tidaklah terbentuk dari dalam dirinya. Kemarahan tersebut sudah terakumulasi sejak lama, sejak orangtuanya mulai memberinya hukuman dengan kekerasan. Hukuman itu memang pada awalnya sukses membuat anak bersikap baik. Namun, saat si anak beranjak remaja dan menjadi dewasa, hukuman itu malah menjadi buah simalakama. 
  6. Anak yang dipukul di bagian sensitifnya, bisa membuat anak mengasosiasikan hal itu antara rasa sakit dan kenikmatan seksual. Pemikiran tersebut akan berdampak buruk, terutama jika anak tidak mendapat banyak perhatian dari orangtuanya, kecuali hanya saat dihukum. Anak yang mengalami hal tersebut akan tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri. Mereka percaya, mereka tidak layak mendapatkan hal yang lebih baik. 
  7. Hukuman fisik bisa membuat anak menangkap pesan yang salah yaitu ‘tindakan itu dibenarkan’. Mereka merasa memukul orang lain yang lebih kecil dari mereka dan kurang memiliki kekuatan, memang boleh. Saat dewasa, anak ini akan tumbuh menjadi orang yang kurang memiliki kasih sayang pada orang lain dan takut pada orang yang lebih kuat dari mereka. 
  8. Berkaca dari orangtuanya yang suka memukul, anak belajar kalau memukul merupakan cara yang bisa dilakukan untuk mengeksperikan perasaan dan menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, sungguh memukul anak bukanlah cara yang tepat untuk mendidik mereka atau membuat mereka jadi orang yang lebih baik.
Selengkapnya ...

Selasa, 09 Agustus 2011

Selasa, 21 Juni 2011

Sekolah Integral Berbasis Tauhid


Perkembangan sain dan teknologi tidak serta merta meningkatkan martabat manusia, ketika krisis akhlaq masih menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat kita. Anank-anak kita tumbuh dan berkembang di lingkungan yang serba menghawatirkan, laksana hidup di “kampung monster” Sebuah kampong yang menawarkan kehidupan hodonis, serakah, pergaulan bebas, narkoba dan sejenisnya. Jika dianalisa , persoalan tersebut tertumpu pada persoalan pendidikan. Persoalan bagaimana mendidik akhlaq, persoalan mendidik beribadah, menumbuhkan kekuatan spiritual dan persoalan pendidikan aqidah yang memberi landasan dan arahan kehidupan.
Kita sebagai orang tua, hendaknya turut prihatin dan tidak membiarkan anak-anak terseret dalam pusaran persoalan krisis multidimensi yang sedang melanda masyarakat khususnya putra-putri kita. Kami mengajak bapak/ Ibu dan semuanya untuk bermitra, bekerja sama untuk mendidik putra-putri kita dengan pendidikan berbasis Tauhid.Suatu metode pendidikan yang berlandaskan pada rukun Iman,rukun Islam dan Ihsan,sehingga diharapkan bisa menumbuh kembangkan secara optimal karakter keislaman,karakter pembelajar dan keterampilan hidup(Life skill) secara integratif.

Visi :
Excellent with Integral Character

Indikator Visi :
  • Ekselen dalam karakter spiritual keagamaan
  • Bertauhid kuat
  • Berakhlaq Qur’ani
  • Beribadah tekun
  • Berdakwah aktif
  • Ekselen dalam bidang akademik
  • Ekselen dalam penguasaan Al Qur’an
  • Ekselen dalam bidang Bahasa Arab dan Bahasa Inggris
  • Ekselen dalam Lifeskill
  • Ekselen dalam pelayanan
Selengkapnya ...

Selasa, 07 Juni 2011

Head Master